Minggu, 22 Februari 2015

Cara Membuat Scroll Pada Widget Blog

Apakah Anda ingin memasang scroll pada widget, seperti yang saya pasang pada widget Ebook Gratis, Nonton Video dan Arsip Blog di blog ini? Kalau ya, silakan simak penjelasannya di bawah ini.

Scroll adalah bentuk minimalis dari sesuatu widget yang bisa kita tarik ke bawah dan ke atas. Penggunaan efek scroll pada widget ini bertujuan agar lebih rapi, tidak makan tempat banyak dan juga agar lebih terkesan minimalis. Membuat scroll pada widget tidaklah susah. Karena kita hanya menambahkan beberapa kode agar fungsi scroll  muncul. Di dalam dunia blog, ada 2 cara untuk membuat scroll pada widget, yaitu :

1. Widget tanpa kode HTML/Javascript.

Pertama kita harus tahu nama widget yang akan kita beri scroll. Caranya, masuk menu Tata Letak dan sentuhkan cursor di tulisan edit pada widget yang akan diberi scroll. Pada bagian bawah akan terlihat nama widget, lihat pada gambar di bawah ini nama widget-nya adalah PopularPosts1.



Cara Membuat Scroll di Widget Blog

Setelah kita mengetahui nama widgetnya, maka sobat masuk ke menu Template dan pilih Edit Html.
Lalu cari kode ]]></b:skin>, agar lebih mudah sobat gunakan tombol ctrl+F.
Masukan kode berikut tepat di atas kode ]]></b:skin>.
#PopularPosts1 .widget-content{
height:230px;
width:auto;
overflow:auto;
}

Nb : 1. Kode Berwarna merah adalah kode widget yang akan diberi scroll.
        2. Kode Berwarna biru adalah kode untuk tinggi widget scroll. 

Terakhir, Save dan lihat hasilnya.

2. Widget dengan kode HTML/Javascript.

Untuk membuat scroll pada widget dengan HTML/Javascript, Anda hanya perlu menambahkan sedikit kode berikut pada widget yang akan diberikan scroll.
<div style="overflow:auto; width:100%px; height:230px; padding:10px; border:1px solid #999999;">
"kode widget"</div>
Nb : 1. Tulisan yang berwarna merah adalah tempat untuk menaruh kode widget yang akan di scroll.
        2. Kode yang berwarna biru adalah lebar untuk widget scroll.

Demikian, semoga bermanfaat.

Orang yang Sudah Meninggal Dunia Mengetahui Ziarah Orang yang Hidup (Bagian 1)


Menurut Ibnu Abdil Barr, diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau bersabda:

"Tidaklah ada di antara orang Muslim yang lewat di dekat kubur saudaranya, yang dikenalnya selagi di dunia, lalu dia mengucapkan salam kepadanya, melainkan Allah mengembalikan ruhnya kepadanya hingga dia membalas salamnya itu."

Ini merupakan nash yang menunjukkan bahwa orang yang sudah meninggal dunia dan terbujur di dalam kuburnya, bisa mengetahuinya dan juga membalas salamnya.

Di dalam Ash Shahihain diriwayatkan dari Rasulullah Saw dari beberapa jalan, bahwa beliau memerintahkan untuk mengumpulkan para korban perang Badr (dari kalangan musyrikin Quraisy) dan melemparkannya ke dalam sebuah lubang bekas sumur. Kemudian beliau mendekat dan berdiri di dekat mereka sambil memanggil nama mereka satu persatu, "Hai Fulan bin Fulan, hai Fulan bin Fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kalian adalah benar? Sesungguhnya aku mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb-ku kepadaku adalah benar."

Umar bin Khaththab ra bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin engkau berbicara dengan orang-orang yang sudah menjadi bangkai?"

Beliau menjawab, "Demi Yang mengutusku dengan kebenaran, mereka lebih mampu mendengar apa yang kukatakan daripada kalian, hanya saja mereka tidak mampu menjawab."

Diriwayatkan dari beliau, bahwa orang yang meninggal dunia dapat mendengar suara sandal orang-orang yang mengiringinya, saat mereka meninggalkan kuburnya.

Nabi Saw mensyariatkan kepada umatnya, agar mereka mengucapkan salam kepada ahli kubur, seperti salam yang mereka ucapkan kepada lawan bicara, dengan lafazh sebagai berikut: "Salam sejahtera atas kalian, tempat tinggal orang-orang Mukmin." Ucapan semacam ini layak disampaikan kepada orang yang dapat mendengar dan memikirkannya. Jika tidak, maka ucapan semacam ini hanya ditujukan kepada orang yang tidak ada di tempat atau benda mati.

Orang-orang salaf telah menyepakati hal ini dan banyak atsar yang diriwayatkan dari mereka, bahwa orang yang meninggal dunia dapat mengetahui ziarah orang yang masih hidup di atas kuburnya, dan dia merasa gembira karena kedatangannya itu.

Abu Bakar bin Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Abud-Dunya mengatakan di dalam kitab Kitabul Qubur, tentang orang yang meninggal dunia dan mengetahui kedatangan orang yang masih hidup, dari Aisyah ra, ia berkata, "Rasulullah Saw bersabda:

"Tidaklah seseorang menziarahi kubur saudaranya dan duduk di sisinya, melainkan ia mendengarnya dan menjawab pertanyaannya, hingga dia bangkit."

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata, "Apabila seseorang melewati kubura saudara yang dikenalnya lalu dia mengucapkan salam kepadanya, maka dia menjawab salamnya dan mengenalinya. Jika dia melewati kuburan orang yang tidak dikenalnya, lalu mengucapkan salam, maka dia hanya membalas salamnya."
Dari seseorang dari kerabat Ashim al Jahdari, dia berkata, "Aku bermimpi bertemu dengan al Jahdari, enam hari setelah ia meninggal dunia. Dalam mimpi itu aku bertanya kepadanya,"Bukankah engkau sudah meninggal dunia?"
"Benar," jawabanya.
"Di mana engkau berada saat ini?" aku bertanya.
Dia menjawab, "Demi Allah, aku berada di sebuah taman dari taman-taman surga. Aku bersama beberapa rekanku berkumpul pada setiap malam Jumat dan pagi harinya, lalu kami sama-sama menghadap Abu Bakat bin Abdullah al Mazny, untuk mencari kabar tentang kalian."
Aku bertanya lagi, "Apakah itu jasad kalian atau ruh kalian?"
"Sama sekali tidak. Jasad telah usang. Hanya ruh-ruh yang saling bertemu," jawabnya.
"Apakah kalian mengetahui kedatangan kami yang menziarahi kalian?" tanyaku.
"Ya, kami mengetahuinya pada Jumat petang dan pada hari Sabtu hingga terbit matahari," jawabnya.
Aku bertanya lagi, "Mengapa yang demikian itu tidak berlaku untuk semua hari?"
Dia menjawab, "Mengingat kelebihan hari Jumat dan keagungannya."

Dari al Qashab, dia berkata, "Setiap Sabtu pagi aku pergi bersama Muhammad bin Wasi' ke kuburan. Kami mengucapkan salam kepada orang-orang yang dikubur di sana dan juga mendoakan mereka. Setelah itu kami kembali. Suatu hari kukatakan kepada Muhammad bin Wasi', "Bagaimana jika jadwal ziarah kita ubah menjadi hari Senin?"
Dia menjawab, "Aku pernah mendengar riwayat bahwa orang-orang yang meninggal dunia dapat mengetahui para peziarahnya pada hari Jumat dan sehari sebelum serta sesudahnya."

Dari Sufyan ats Tsauri, dia berkata, "Aku pernah mendengar dari Adh Dhahhak, bahwa dia berkata, "Siapa yang menziarahi suatu kuburan pada hari Sabtu sebelum matahari terbit, maka mayit penghuni kubur itu mengetahui ziarahnya."
Ada seseorang bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?"
Dia menjawab, "Karena keistimewaan hari Jumat."

Dari Abut Tayyah, dia berkata, "Mutharrif pergi pada pagi-pagi buta, yang saat itu adalah hari Jumat, sambil membawa cemetinya, yang pada suatu malam ujung cemeti itu mengeluarkan sinar. Dia tiba di areal kuburan sambil tetap menunggang kudanya. Dia melihat orang-orang yang di kubur duduk di atas kuburannya masing-masing. Mereka berkata, "Inilah Mutharrif yang datang pada hari Jumat."
Mutharrif berkata, "Aku bertanya kepada mereka, 'Apakah kalian semua juga mengenal hari Jumat?'"
Mereka menjawab, "Ya, kami juga mendengar apa yang dikatakan burung pada hari itu."
"Apa yang mereka katakan?" tanyanya.
Mereka menjawab, "Mereka berakata, 'Salam, salam'." (Bersambung ke bagian 2)
 

Jumat, 20 Februari 2015

Muqaddimah


 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
قاَلَ الشَّيْخُ اْلإِمَامُ، الْعَالِمُ الْعَلاَّمَةُ، حُجَّةُ اْلاِسْلاَمِ، وَبَرَكَةُ اْلأَنَامِ: أَبُوْ حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍِ بْنِ مُحَمَّدٍِ الْغَزَالِيُّ الطُّوْسِىُّ؛ قَدَّسَ اللهُ رُوْحَهُ، وَنَوَّرَ ضَرِيْحَهُ - آمِيْن: الْحَمْدُ لِلَّهِ حَقَّ حَمْدِهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ، مُحَمَّدٍِ رَسُوْلِهِ وَعَبْدِهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مِنْ بَعْدِهِ
Berkata seorang Syekh yang agung, al-Alim al-Allamah, Hujjatul Islam, pembawa berkah bagi manusia, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali at-Thusi; semoga Allah menyucikan ruhnya dan menyinari alam kuburnya. Amin: Segala puji bagi Allah dengan sebenar-benar pujian. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada sebaik-baik makhluk, rasul dan utusan-Nya, Nabi besar Muhammad SAW, dan juga kepada keluarga dan para sahabatnya dan para pengikutnya yang hidup pada masa setelahnya.
أَمَّا بَعْدُ: فَاعْلَمْ أَيُّهَا الْحَرِيْصُ الْمُقْبِلُ عَلَى اقْتِبَاسِ الْعِلْمِ، الْمُظْهِرُ مِنْ نَفْسِهِ صِدْقَ الرَّغْبَةِ وَفَرْطَ التَّعَطُّشِ إِلَيْهِ، أَنَّكَ إِنْ كُنْتَ تَقْصُدُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ الْمُنَافَسَةَ وَالْمُبَاهَاةَ، وَالتَّقَدُّمَ عَلَى اْلأَقْرَانِ، وَاسْتِمَالَةَ وُجُوْهِ النَّاسِ إِلَيْكَ، وَجَمْعِ حُطَامِ الدُّنْيَا، فَأَنْتَ سَاعٍِ فِيْ هَدْمِ دِيْنِكَ، وَهَلاَكِ نَفْسِكَ، وَبَيْعِ آخِرَتِكَ بِدُنْيَاكَ، فَصَفْقَتُكَ خَاسِرَةٌ وَتِجَارَتُكَ بَائِرَةٌ، وَمُعَلِّمُكَ مُعِيْنٌ لَكَ عَلَى عِصْيَانِكَ، وَشَرِيْكٌ لَكَ فِيْ خُسْرَانِكَ، وَهُوَ كَبَائِعِ سَيْفٍ مِنْ قَاطِعِ طَرِيْقٍ، كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَعَانَ عَلَى مَعْصِيَةٍِ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍِ كَانَ شَرِْيكًَا لَهُ فِيْهَا
Ammaa ba’du: Ketahuilah, wahai orang yang besar semangat dan perhatiannya dalam mencari ilmu, yang telah menunjukan cita-cita yang tinggi dan rasa dahaga yang begitu kuat terhadap ilmu; seandainya niatmu dalam mencari ilmu itu hanyalah untuk belomba-lomba dan berbangga diri dengannya, lalu menjadi terkemuka dibanding orang lain, dan untuk menarik perhatian orang banyak terhadap dirimu, dan untuk menghimpunkan kekayaan dunia dengan ilmu itu, maka sesungguhnya engkau telah melangkah untuk menghancurkan agamamu, membinasakan dirimu sendiri, dan menjual akhiratmu demi memperoleh duniamu, maka penjualanmu adalah rugi dan perniagaanmu rusak, dan guru yang mengajarkan ilmu itu padamu seakan-akan telah menolongmu dalam melaksanakan kemaksiatan, bersamamu dalam kerugian, dan laksana seseorang yang menjual pedang kepada perampok. Seperti sabda Rasullullah SAW: “Barangsiapa yang menolong orang lain melakukan suatu kemaksiatan walaupun dengan setengah kalimat, maka orang itu dipandang telah ikut melakukan kemaksiatan tersebut.”[1]
وَإِنْ كَانَتْ نِيَّتُكَ وَقَصْدُكَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ تَعَالَى مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ الْهِدَايَةَ، دُوْنَ مُجَرَّدِ الرِّوَايَةِ؛ فَأَبْشِرْ، فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَبْسُطُ لَكَ أَجْنِحَتَهَا إِذَا مَشَيْتَ، وَحِيْتَانُ الْبَحْرِ تَسْتَغْفِرُ لَكَ إِذَا سَعَيْتَ. وَلَكِنْ يَنْبَغِيْ لَكَ أَنْ تَعْلَمَ قَبْلَ كُلِّ شَيْءٍِ، أَنَّ الْهِدَايَةَ الَّتِيْ هِيَ ثَمَرَةُ الْعِلْمِ، لَهَا بِدَايَةٌ وَنِهَايَةٌ، وَظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ، وَلاَ وُصُوْلَ إِلَى نِهَايَتِهَا إِلاَّ بَعْدَ إِحْكَامِ بِدَايَتِهَا، وَلاَ عُثُوْرَ عَلَى بَاطِنِهَا إِلاَّ بَعْدَ الْوُقُوْفِ عَلَى ظَاهِرِهَا
Namun apabila niatmu dalam mencari ilmu itu demi menggapai keridhaan Allah dan mendapatkan hidayah, bukan sekedar agar engkau pandai berbicara (berceramah); maka hendaklah engkau merasa gembira, karena para malaikat telah mengembangkan sayapnya apabila kamu berjalan, dan ikan yang ada di lautan seluruhnya memohonkan ampun bagimu di dalam setiap gerakmu. Namun demikian, sebelum sampai kepada semua itu, hendaklah engkau mengetahui bahwa hidayah pada hakikatnya adalah buah dari ilmu. Hidayah itu sendiri baginya ada “bidayah” (pemulaan) dan ada pula “nihayah” (kesudahan/puncak), ada zahirnya dan ada batinnya, dan engkau sekali-kali tidak akan pernah sampai kepada puncak hidayah kecuali setelah engkau menapaki permulaannya, dan engkau tidak akan dapat menyelami yang bersifat batin darinya kecuali setelah engkau memahami dan menyempurnakan yang bersifat zahir darinya.
وَهَأَنَا مُشِيْرٌ عَلَيْكَ بِبِدَايَةِ الْهِدَايَةِ؛ لِتُجَرِّبَ بِهَا نَفْسَكَ، وَتَمْتَحِنَ بِهَا قَلْبَكَ، فَإِنْ صَادَفْتَ قَلْبَكَ إِلَيْهَا مَائِلاً، وَنَفْسَكَ بِهَا مُطَاوِعَةً، وَلَهَا قَابِلَةً؛ فَدُوْنَكَ التَّطَلُّعَ إِلَى النِّهَايَاتِ وَالتَّغَلْغُلَ فِيْ بِحَارِ الْعُلُوْمِ
Di dalam kitab ini aku akan tunjukkan padamu “bidayatul hidayah” (pemulaan-permulaan menuju hidayah); supaya engkau melatih dirimu dengan mengamalkannya, dan supaya engkau dapat menguji hatimu. Seandainya engkau dapati hatimu cenderung kepadanya dan hawa nafsumu tunduk mengikuti arahannya dan dapat memberikan perhatian yang sewajarnya, maka pada saatnya engkau akan sampai di  puncak hidayah dan engkau akan mampu mengarungi lautan ilmu yang luas itu.
وَإِنْ صَادَفْتَ قَلْبَكَ عِنْدَ مُوَاجَهَتِكَ إِيَّاهَا بِهَا مُسَوِّفًا، وَبِالْعَمَلِ بِمُقْتَضَاهَا مُمَاطِلاً؛ فَاعْلَمْ أَنَّ نَفْسَكَ الْمَائِلَةَ إِلَى طَلَبِ الْعِلْمِ هِيَ النَّفْسُ اْلأَمَّارَةُ بِالسُّوْءِ، وَقَدْ انْتَهَضَتْ مُطِيْعَةً لِلشَّيْطَانِ اللَّعِيْنِ لِيُدْلِيْكَ بِحَبْلِ غُرُوْرِهِ؛ فَيَسْتَدْرِجُكَ بِمَكِيْدَتِهِ إِلَى غَمْرَةِ الْهَلاَكِ، وَقَصْدُهُ أَنْ يُرَوِّجَ عَلَيْكَ الشَّرَّ فِيْ مَعْرِضِ الْخَيْرِ حَتَّى يُلْحِقَكَ: بِاْلأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالاً، الَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَياةِ الدُنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
Tetapi jika engkau dapati hatimu tidak memberikan perhatian kepadanya dan nafsumu suka berlambat-lambat dalam melaksanakan perintahnya; maka ketahuilah bahwa kecenderunganmu dalam menuntut ilmu sebenarnya dikendalikan oleh nafsu ammarah bissuu’, hanya tunduk kepada perintah setan yang terkutuk yang hendak menipumu dengan berbagai macam tipudayanya; sehingga engkau akan terjerumus ke dalam jurang kebinasaan. Dengannya setan bermaksud menawarkan kepadamu keburukan dalam kemasan kebaikan, sehingga engkau termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam firman Allah: “…orang yang paling rugi perbuatannya, (yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”[2]
وَعِنْدَ ذَلِكَ يَتْلُوْ عَلَيْكَ الشَّيْطَانُ فَضْلَ الْعِلْمِ وَدَرَجَة الْعُلَمَاءِ، وَمَا وَرَدَ فِيْهِ مِنَ اْلأَخْبَارِ وَاْلآثَارِ وَيُلْهِيْكَ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى، لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا، وَعَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهُ بِعِلْمِهِ
Pada waktu itu, setan akan selalu membisikkan kepadamu tentang keutamaan ilmu dan kemuliaan derajat para ulama. Ia juga menyuarakan kepadamu berbagai keterangan yang ada di dalam hadits maupun atsar perihal keutamaan ilmu dan kemuliaan para ulama itu. Sedangkan pada saat yang sama setan mengalihkan perhatianmu dari sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah hidayahnya (amalnya), maka ia hanya bertambah jauh dari Allah.”[3] Juga dari sabda Rasulullah SAW: “Manusia yang paling pedih siksanya di hari Kiamat adalah orang alim yang tidak bermanfaat ilmunya.”[4]
وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ إِنِّىْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَقَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَعَمَلٍ لاَ يُرْفَعُ، وَدُعَاءٍ لاَ يَسْمَعُ
Padahal Rasulullah SAW selalu berdoa: [Allaahumma innii a-‘uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’, wa qalbin laa yakhsya’, wa ‘amalin laa yurfa’, wa du’aa-in laa yasma’] –Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermafaat, hati yang tidak kusyu’, amal yang tidak diangkat (tidak diterima), dan dari doa yang tidak didengar (tidak dimakbulkan).”[5]
وَعَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِيْ بِأَقْوَامٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيْضَ مِنْ نَارٍ، فَقُلْتُ: مَنْ أَنْتُمْ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَأْمُرُ بِالْخَيْرِ وَلاَ نَأْتِيْهِ وَنَنْهَى عَنِ الشَّرِّ وَنَأْتِيْهِ
Setan juga memalingkanmu dari sabda Rasullullah SAW: “Pada malam isra’ mi’raj diperlihatkan padaku kaum yang dipotong lidah mereka dengan gunting yang terbuat dari api. Maka aku bertanya: “Siapakah kamu ini?” Mereka menjawab: “Kami adalah orang yang suka menyuruh orang lain berbuat kebaikan tetapi kami tidak melakukannya, dan kami suka melarang orang lain meninggalkan kejahatan tetapi kami mengerjakannya.”[6]
فَإِيَّاكَ يَا مِسْكِيْنُ أَنْ تُذْعِنَ لِتَزْوِيْرِهِ فَيُدْلِيْكَ بِحَبْلِ غُرُوْرِهِ، فَوَيْلٌ لِلْجَاهِلِ حَيْثُ لَمْ يَتَعَلَّمْ مَرَّةً وَاحِدَةً، وَوَيْلٌ لِلْعَالِمِ حَيْثُ لَمْ يَعْمَلْ بِمَا عَلِمَ أَلْفَ مَرَّةٍ
Maka berhati-hatilah engkau wahai saudaraku dari tipu daya setan dan janganlah engkau tunduk kepada tipu dayanya itu, karena ia akan membelenggumu dengan tali tipuannya. Celakalah orang bodoh yang tidak mau belajar, dan kecelakaan seribu kali lipat bagi orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya.
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّاسَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَحْوَالٍ: رَجُلٌ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيَتَّخِذَهُ زَادَهُ إِلَى الْمَعَادِ، وَلَمْ يَقْصُدْ بِهِ إِلاَّ وَجْهَ اللهِ وَالدَّارَ اْلآخِرَةَ؛ فَهَذَا مِنَ الْفَائِزِيْنَ
Dan ketahuilah bahwa manusia dalam menuntut ilmu itu terbagi kepada tiga keadaan: Pertama, orang yang mencari ilmu untuk menjadikannya sebagai bekal menuju negeri akhirat, maka niatnya dalam mencari ilmu itu tiada lain kecuali untuk memperoleh keridhaan Allah dan kebahagiaan hidup di akhirat. Maka orang yang demikian ini termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung.
وَرَجُلٌ طَلَبَهُ لِيَسْتَعِيْنَ بِهِ عَلَى حَيَاتِهِ الْعَاجِلَةِ، وَيَنَالَ بِهِ الْعِزَّ وَالْجَاهَ وَالْمَالَ، وَهُوَ عَالِمٌ بِذَلِكَ مُسْتَشْعِرٌ فِيْ قَلْبِهِ رَكَاكَةَ حَالِهِ وَخِسَّةَ مَقْصَدِهِ، فَهَذَا مِنَ الْمُخَاطِرِيْنَ. فَإِنْ عَاجَلَهُ أَجَلُهُ قَبْلَ التَّوْبَةِ خِيْفَ عَلَيْهِ مِنْ سُوْءِ الْخَاتِمَةِ، وَبَقِيَ أَمْرُهُ فِيْ خَطِرِ الْمَشِيْئَةِ؛ وَإِنْ وَفَقَ لِلتَّوْبَةِ قَبْلَ حُلُوْلِ اْلأَجَلِ، وَأَضَافَ إِلَى الْعِلْمِ الْعَمَلَ، وَتَدَارَكَ مَا فَرَّطَ فِيْهِ مِنَ الْخَلَلِ - الْتَحَقَ بِالْفَائِزِيْنَ، فَإِنَّ: التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ
Kedua, orang yang mencari ilmu untuk memperoleh keuntungan segera (duniawi), untuk meraih kemuliaan, kedudukan dan kekayaan. Sebenarnya di dalam hatinya dia mengetahui dan menyadari bahwa tujuan yang demikian itu adalah buruk dan hina. Orang ini termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbahaya (mengkhawatirkan keadaannya). Apabila ajalnya menjemput sebelum dia bertaubat, maka dikhawatirkan dia akan mengalami su-ul khatimah, dan nasibnya di hari Kiamat berada dalam kehendak Allah. Namun jika dia mendapat kesempatan bertaubat sebelum ajal menghampirinya, bergegas untuk melakukan amal sesuai dengan ilmunya, menyempurnakan kekurangannya di masa lalu, maka ada kemungkinan dia digabungkan dengan orang-orang yang beruntung. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak mempunyai dosa.”[7]
وَرَجُلٌ ثَالِثٌ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِ الشَّيْطَانُ؛ فَاتَّخَذَ عِلْمَهُ ذَرْيعَةً إِلَى التَّكَاثُرِ بِالْمَالِ، وَالتَّفَاخُرِ بِالْجَاهِ، وَالتَّعَزُّزِ بِكَثْرَةِ اْلأَتْبَاعِ، يَدْخُلُ بِعِلْمِهِ كُلَّ مُدْخَلٍ رَجَاءَ أَنْ يَقْضِىَ مِنَ الدُّنْيَا وَطَرَهُ، وَهُوَ مَعَ ذَلِكَ يُضْمِرُ فِيْ نَفْسِهِ أَنَّهُ عِنْدَ اللهِ بِمَكَانَةٍ، لاتِّسَامِهِ بِسِمَةِ الْعُلَمَاءِ، وَتَرَسُّمِهِ بِرُسُوْمِهِمْ فِي الزِّىِّ وَالْمَنْطِقِ، مَعَ تَكَالُبِهِ عَلَى الدُّنْيَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، فَهَذَا مِنَ الْهَالِكِيْنَ، وَمِنَ الْحَمْقَى الْمَغْرُوْرِيْنَ، إِذِ الرَّجَاءُ مُنْقَطِعٌ عَنْ تَوْبَتِهِ لِظَنِّهِ أَنَّهُ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ، وَهُوَ غَافِلٌ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى: يَأَيُهَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنََ مَالاَ تَفْعَلُوْنَ
Ketiga, orang yang telah dikuasai oleh setan; orang ini menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mengumpulkan harta, berbangga-bangga dengan kedudukan dan merasa hebat dengan banyaknya pengikut. Dia menggunakan ilmunya untuk meraih segala yang diharapkan dan dihajatkannya dari keuntungan dunia. Walaupun demikian, dia masih terpedaya lagi dengan menyangka bahwa dia mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah, karena tampilannya menyerupai tampilan para ulama, bergaya dengan gaya mereka, baik dalam perkataan maupun sikap formal. Padahal lahir batin dia adalah orang yang sangat rakus terhadap kekayaan dunia. Orang yang seperti ini termasuk dalam golongan orang yang binasa, bodoh dan tertipu. Sangat tipis harapan ia dapat bertaubat kepada Allah karena dia telah menyangka bahwa dirinya termasuk dalam golongan orang-orang yang berbuat kebaikan. Dia lalai terhadap firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yangberiman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”[8]
وَهُوَ مِمَّنْ قَالَ فِيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا مِنْ غَيْرِ الدَّجَّالِ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنَ الدَّجَّالِ، فَقِيْلَ: وَمَا هُوَ يَارَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: عُلَمَاءُ السُّوْءِ
Dan orang ini sesungguhnya temasuk dalam golongan yang disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: Selain daripada dajjal, ada satu pekara yang sangat aku takutkan untuk kalian fitnahnya daripada dajjal. Lalu ada sahabat yang bertanya: “Apakah itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab: “Para ulama su’, yakni ulama yang jelek.”[9]
وَهَذَا لِأَنَّ الدَّجَّالَ غَايَتُهُ اْلإِضْلاَل، وَمِثْلُ هَذَا الْعَالِمُ وَإِنْ صَرَفَ النَّاسَ عَنِ الدُّنْيَا بِلِسَانِهِ وَمَقَالِهِ، فَهُوَ دَاعٍ لَهُمْ إِلَيْهَا بِأَعْمَالِهِ وَأَحْوَالِهِ، وَلِسَانُ الْحَالِ أفصح مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ، وَطِبَاعُ النَّاسِ إِلَى الْمُسَاهَمَةِ فِي اْلأَعْمَالِ أَمْيَلُ مِنْهَا إِلَى الْمُتَابَعَةِ فِي اْلأَقْوَالِ
Yang demikian itu karena dajjal tujuannya sudah sangat jelas, yakni menyesatkan manusia. Lain halnya dengan ulama jelek ini, mereka mengajak manusia berpaling dari dunia dengan lisan dan perkataan mereka, namun mereka mengajak manusia kepada dunia dengan amal dan perbutan mereka. Padahal bahasa perilaku lebih besar pengaruhnya daripada bahasa ucapan, dan tabiat manusia lebih cenderung mengikuti amal daripada mengikuti perkataan.
فَمَا أَفْسَدَهُ هَذَا الْمَغْرُوْرُ بِأَعْمَالِهِ أَكْثَرَ مِمَّا أَصْلَحَهُ بِأَقْوَالِهِ، إِذْ لاَ يَسْتَجْرِىءُ الْجَاهِلُ عَلَى الرَّغْبَةِ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ بِاسْتِجْرَاءِ الْعُلَمَاءِ، فَقَدْ صَارَ عِلْمُهُ سَبَبًا لِجُرْأَةِ عِبَادِ اللهِ عَلَى مَعَاصِيْهِ، وَنَفْسُهُ الْجَاهِلَةُ مُدِلَّةٌ مَعَ ذَلِكَ تُمَنِّيْهِ وَتُرَجِّيْهِ، وَتَدْعُوْهُ إِلَى أَنْ يَمُنَّ عَلَى اللهِ بِعِلْمِهِ، وَتُخَيِّلَ إِلَيْهِ نَفْسُهُ أَنَّهُ خَيُْرٌ مِنْ كَثِيْرٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ
Akibatnya, kerusakan yang timbul sebagai dampak amal mereka lebih banyak daripada kebaikan yang ditimbulkan oleh perkataan mereka. Orang yang tidak berilmu (baca: masyarakat awam) tidak akan berani mencintai dunia kecuali setelah melihat keberanian ulama jelek mencintai dunia. Maka ilmu yang mereka miliki itu menjadi sebab beraninya manusia bermaksiat kepada Allah. Lebih daripada itu, nafsu mereka yang bodoh menghadirkan angan-angan tentang posisi mereka yang tinggi di sisi Allah, mendorong mereka merasa telah berbuat banyak untuk Allah dengan ilmu mereka, dan nafsu mereka menghadirkan hayalan dalam diri mereka bahwa mereka lebih baik dari kebanyakan manusia.
فَكُنْ أَيُّهَا الطَّالِبُ مِنَ الْفَرِيْقِ اْلأَوَّلِ، وَاحْذَرْ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْفَرِيْقِ الثَّانِيْ، فَكَمْ مِنْ مُسَوِّفٍ عَاجَلَهُ اْلأَجَلُ قَبْلَ التَّوْبَةِ فَخَسِرَ، وَإِيَّاكَ ثُمَّ إِيَّاكَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْفَرِيْقِ الثَّالِثِ، فَتَهْلِكَ هَلاَكًا لاَ يُرْجَى مَعَهُ فَلاَحُكَ، وَلاَ يُنْتَظَرُ صَلاَحُكَ
Oleh karena itu wahai para penuntut ilmu, jadikanlah dirimu bersama dengan golongan yang pertama, dan berhati-hatilah agar engkau tidak termasuk ke dalam golongan yang kedua. Janganlah engkau menunda-nunda taubat, berapa banyak orang yang menunda-nunda taubat kemudian ajal menjemput, padahal ia belum sempat bertaubat, lalu ia menjadi orang yang merugi. Dan jangan sekali-kali engkau termasuk dalam golongan yang ketiga. Jika sampai engkau termasuk di dalamnya maka engkau akan terjerumus ke jurang kebinasaan yang tidak dapat  diharapkan keberuntungannya dan tidak dapat ditunggu lagi kebaikannya.
فَإِنْ قُلْتَ: فَمَا بِدَايَةُ الْهِدَايَةِ لِأُجَرِّبَ بِهَا نَفْسِيْ؟ فَاعْلَمْ، أَنَّ بِدَايَتَهَا ظَاهِرَةُ التَّقْوَى، وَنِهَايَتَهَا بَاطِنَةُ التَّقْوَى؛ فَلاَ عَاقِبَةَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى، وَلاَ هِدَايَةَ إِلاَّ لِلْمُتَّقِيْنَ
Maka apabila engkau bertanya: Apakah permulaan jalan menuju hidayah itu agar aku dapat menguji diriku dengannya? Ketahuilah, bahwa permulaan jalan menuju hidayah itu ialah ketakwaan yang bersifat zahir, sedangkan puncaknya adalah ketakwaan yang bersifat batin. Sungguh tidak ada keberuntungan hakiki yang akan dicapai kecuali dengan ketakwaan, sebagaimana halnya tidak ada hidayah kecuali untuk orang-orang yang bertakwa.
وَالتَّقْوَى: عِبَارَةٌ عَنِ امْتِثَالِ أَوَامِرِ اللهِ تَعَالَى، وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ، فَهُمَا قِسْمَانِ وَهَا أَنَا أُشِيْرُ عَلَيْكَ بِجُمَلة مُخْتَصَرَةٍ مِنْ ظَاهِرِ عِلْمِ التَّقْوَى فِي الْقِسْمَيْنِ جَمِيْعًا، وَأُلْحِقُ قِسْمَا ثَالِثًا لِيَصِيْرَ هَذَا الْكِتَابُ جَامِعًا مُغْنِيًا وَاللهُ الْمُسْتَعَانِ
Dan ketakwaan meliputi dua hal: melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang-Nya. Aku akan jelaskan kepadamu dua bagian takwa zahir tersebut dengan penjelasan yang ringkas, dan aku aku tambahkan bagian ketika yang berhubungan dengan amal hati agar kitab ini menjadi lebih lengkap dan menyeluruh. Semoga Allah memberi pertolongan.


[1] Ada hadits yang agak mirip dengan hadits tersebut:
مَنْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ
“Barangsiapa menolong untuk membunuh seorang mukmin meski dengan setengah kalimat, maka dia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan tertulis di antara kedua matanya: putus asa dari rahmat Allah.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra)
[2] QS. al-Kahfi [18]: 103-104.
[3] HR Dailami dari Ali bin Abu Thalib ra.
[4] HR Thabrani dan Baihaqi dari Abu Hurairah ra
[5] HR Ahmad dari Anas ra, dan al-Hakim dari Ibnu Mas’ud ra.
[6] HR Ahmad dari Anas ra.
[7] HR Ibnu Majah dan Baihaqi dari Abdullah bin Mas’ud ra.
[8] QS. ash-Shaf [61]: 2.
[9] HR Ahmad dari Abu Dzar ra.

Rabu, 18 Februari 2015

Menolak Bid'ah Hasanah adalah Bid'ah


"Bid'ah" sesungguhnya bukan kosakata baru di tengah umat Islam. Sejak dahulu bid'ah selalu diperbincangkan dan selalu menjadi tema menarik untuk ditulis. Pada masa lalu, ketika para ulama menulis tema tentang bid'ah, seluruh aspek darinya diperbincangkan. Mereka menjelaskan bahwa bid'ah tidaklah selalu bermakna negatif. Ada hal-hal baik yang bisa diambil dari bid'ah. Namun demikian, mereka pun tidak lupa menjelaskan bahwa ada pula bid'ah yang harus dicela, dijauhi, dan diharamkan untuk melakukannya, yakni bid'ah dhalalah atau bid'ah madzmumah.

Sayangnya, dewasa ini bermunculan ditengah umat Islam orang-orang yang selalu menghembuskan pemaknaan bid'ah sebagai sesuatu yang senantiasa bersifat dhalalah (sesat). Dalam pandangan mereka semua bid'ah adalah sesat. Segala hal baru dalam perkara agama ini yang tidak pernah dicontohkan sebelumnya oleh Rasulullah Saw adalah bid'ah dhalalah. Pelakunya divonis sebagai ahli bid'ah yang kelak akan disiksa di dalam neraka. Masih menurut mereka, bid'ah hasanah (bid'ah yang baik) itu tidak ada.

Benarkah demikian? Kita akan buktikan di dalam  buku ini bahwa pemahaman yang seperti itu tidaklah benar. Buku ini akan menyuguhkan kepada Anda pembahasan tentang bid'ah lengkap dengan dalil-dalil shahih yang secara tegas memperlihatkan bahwa para sahabat telah melakukan berbagai macam inovasi dan kreasi dalam urusan agama ini. Bahkan hal itu telah terjadi pada saat Rasulullah Saw masih berada di tengah-tengah mereka (masih hidup). Tradisi semacam itu terus berlanjut pada generasi-generasi berikutnya dari kalangan salah al-shalih.

Dengan membaca buku ini, Anda akan menemukan alasan kuat untuk menolak pandangan yang mengatakan bahwa semua bid'ah adalah sesat. Dengan membaca buku ini pula, kaum yang anti terhadap bid'ah hasanah akan menemukan dalil-dalil yang tak terbantahkan bahwa bid'ah hasanah benar-benar keberadaannya diakui oleh syariat Islam.

Jika Anda berminat dengan buku ini silakan klik di sini atau bisa dengan mengirim orderan ke 085642411919. 

Doa Ketika Takut kepada Orang Lain

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ

ALLAAHUMMA INNAA NAJ'ALUKA FII NUHUURIHIM WA NA'UUDZU BIKA MIN SYURUURIHIM

"Ya Allah, sungguh kami telah menjadikan diri-Mu sebagai pelindung dalam memerangi mereka, dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari segala keburukan mereka."

Sumber: Imam Nawawi (2009: 433) Al Azkar; The Complete Book of Zikir, Arkanleema)  

Mengenal Allah


Pertanyaan: Kewajiban apa yang pertama kali bagi setiap orang?

Jawaban: Kewajiban pertama kali bagi setiap orang mukallaf adalah mengenal Allah, yang menciptakannya dari tidak ada menjadi ada. Ia diciptakan oleh-Nya semata-mata untuk beribadah. Mengenal pada mulanya memerlukan mengetahui yang disembah, yakni mengetahu Dzat, sifat dan perbuatan-Nya menurut cara yang terpuji.

Allah berfirman:

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Pertanyaan: Bagaimana cara mengenal Allah Swt?

Jawaban: Cara mengenal Allah itu ada dua, yaitu: Pertama, dengan cara mendengar dan mengutip, artinya mendengar apa yang telah diberitakan Allah Swt tentang nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang sempurna di dalam kitab-kitab suci-Nya dan melalui lisan-lisan para Rasul-Nya. 

Allah berfirman:

"Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunya Asmaul Husna, bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan bumi, dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. al Hasyr: 22-24) 

Di dalam hadits disebutkan:

"Sesungguhnya Allah memiliki 99 asma; barangsiapa yang menghafal semuanya akan dimasukkan ke dalam surga...(lalu disebutkan 99 asmaul husna)"

Kedua, dengan akal. Maksudnya memfungsikan akal pikiran untuk merenungkan tentang alam raya (makhluk) ini dan mengambil pelajaran dari semua kejadian, kemudian menjadikan semua itu sebagai dalil atau bukti Yang Maha Menciptakannya, yang tiada lain adalah Allah Swt, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Allah Swt berfirman:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang telah Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dari pengisaran angin dan awan yang telah dikendalikan antara langit dan bumi sungguh (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. al Baqarah: 164) 

Tujuh Macam Air untuk Bersuci





Ada tujuh macam air yang boleh dipergunakan untuk bersuci, yakni:


1. Air hujan
2. Air laut
3. Air sungai
4. Air sumur
5. Air mata air (sumber)
6. Air es (salju)
7. Air embun

Tentang air hujan, Allah Swt berfirman:
"Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikanmu dengan hujan itu." (QS. al Anfal: 11)

Tentang air laut, sabda Nabi Saw:
هو الطهور ماؤه، الحل ميتته 
"Ia (laut itu) suci airnya, halal bangkainya." (HR Al Bukhari, Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sakan)

Tentang air sungai, air sumber, air es, dan air embun, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Rasulullah Saw ketika bertakbir dalam shalat diam sebentar sebelum membaca (Fatihah), saya bertanya, "Apa yang engkau baca, ya Rasulullah?" Beliau bersabda, "Aku membaca:

اللهم باعد بيني وبن خطاياي كما بعدت بين المشرك والمغرب ... اللهم اغسلني من خطاياي بماء الثلج والبرد
"Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahan sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat... (hingga pada bacaan) ... Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahanku dengan air es dan embun." (HR Bukhari dan Muslim)

Tentang air sumur, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sahl ra yang berkata, "Mereka (para sahabat) bertanya, "Ya Rasulullah, engkau berwudhu dengan air sumur budha'ah, padahal orang banyak, orang yang haid dan orang yang junub datang ke sana?" Nabi Saw bersabda:

الماء طهور ولاينجسه شيء
"Air itu suci, sesuatu tidaklah menajiskannya." (HR Turmudzi dan dikatakannya hasan, dishahihkan Imam Ahmad, dan lainnya)